icon-fb icon-twitter icon-gplus icon-wa

Entrepreneurship, Salah Satu Kurikulum Penting di The NextDev Academy 2018

Published 05 January 2019 07:44 By Iwan Tantomi

TheNextDev.id - Bukan hanya sekadar ajang kompetisi antar startup tahap awal di tanah air, The NextDev dengan dukungan penuh dari Telkomsel berkomitmen untuk mengembangkan early stage startup. Diharapkan, para developer muda ini bukan hanya dapat menghadirkan social impact di tengah masyarakat, tapi juga mampu bersaing dengan startup pendahulu, bahkan yang sudah punya nama di dunia internasional.

Gelaran final The NextDev 2018 memang telah usai, kini para startup finalis mendapatkan bekal berupa program berkurikulum yang bermanfaat untuk perkembangan usaha ke depannya. Salah satu aspek penting yang jadi kurikulumnya adalah entrepreneurship, terutama yang menyorot alasan baik buruknya menjadi entreprenuer.

Value yang belum Didefinisikan dengan Jelas

Value Proposition adalah kunci untuk menvalidasi ide bisnismu. Untuk hasil yang jelas, setiap founder sebaiknya mampu menjawab 3 pertanyaan ini, yaitu masalah yang dialami konsumen yang akan dijawab oleh startup besutanmu, bagaimana konsumen mendapat nilai dari solusimu, hingga model bisnis yang mendukung value proposition.

Tuliskan kesimpulan, perbaiki, dan bersiap untuk mengembangkannya setelah mulai membangun startup dan mulai mendapatkan feedback dari konsumen. Kebanyakan founder startup tahap awal cenderung bersemangat dengan apa yang dilakukan.

Tapi jika value proposition sejak awal kurang jelas, kamu berisiko membuat produk yang salah atau menawarkan layanan yang kurang memuaskan kebutuhan konsumen. Ingat, value proposition yang tepat akan memandumu membuat model bisnis, rencana bisnis, hingga strategi pemasaran.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

The NextDev Academy persembahan Telkomsel di tahun 2018 telah memberikan bekal kepada startup finalis di tahun sebelumnya berupa program berkurikulum yang bermanfaat untuk perkembangan usaha mereka kedepan. Simak selengkapnya detail topik yang dibahas pada The Nextdev Academy 2018 di www.TheNextdev.id. Kira-kira kurikulum apa yang akan menanti para finalis #TheNextdev2018 di tahun mendatang?

A post shared by The NextDev (@thenextdev) on

Kemampuan untuk Mengatur Keuangan

Walau dianggap sebagai salah satu model bisnis yang mudah dan cepat dalam pembuatannya, kenyataannya startup berisiko besar untuk gagal. Namun kebanyakan bukan karena banyaknya pesaing, tapi ulah founder yang kurang memiliki kesadaran diri. Biasanya mereka terjebak pada ide awal dan menolak untuk beradaptasi atau mengubahnya.

Dalam banyak kasus, startup gagal karena founder melakukan berbagai usaha untuk membuktikan idenya bisa bekerja. Lebih buruk lagi, startup cenderung menghabiskan sebagian besar uang yang dikumpulkannya untuk pemasaran maupun PR untuk menyebar pesan dari sesuatu yang bahkan belum diyakini akan berhasil. Selain itu, hal ini juga diperparah dengan ketidakmampuan founder untuk mengelola keuangan, bukan hanya untuk dana operasional, tapi juga mencampurnya dengan uang pribadinya.

Ketidakmampuan Membuat Rencana Darurat

Tak peduli seberapa besar atau kecil sebuah perusahaan, entrepreneur wajib memiliki kemampuan beradaptasi dengan kondisi pasar yang terus berubah, hingga memiliki rencana lain saat terjadi krisis. Awalnya, founder mengandalkan pada ide yang bagus, eksekusi bisnis yang solid dan modal yang cukup untuk merintis startup.

Meski begitu, menjalankannya adalah sebuah pertaruhan. Bahkan bagi founder yang sudah berpengalaman, rencana bisnis yang dibuat bisa berubah dengan cepat, yang terpenting bukan hanya mengharapkan yang tak terduga tapi juga merencanakannya.

Kurikulum The NextDev Academy 2018 dirancang khusus untuk memberikan ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan startup tahap awal. Ikuti terus perjalanan para finalisnya, ya!

MORE UPDATES