icon-fb icon-twitter icon-gplus icon-wa

Telkomsel The NextDev 2018, Platform Early Stage Startup Utama di Indonesia!

Published 10 July 2018 07:18 By Zaki Mursidan Baldan

TheNextDev.id - Program The NextDev 2018 Talent Scouting Denpasar yang digelar akhir Juni lalu (28/6) membuka sejarah baru bagi Alvin Hartanto (26),  seorang nutrisionis dan personal trainer. Saat pembawa acara platform early stage startup dari Telkomsel ini menyebut aplikasi DietBuddy sebagai finalis The NextDev 2018 Denpasar, anak muda berbadan atletis tersebut sontak berdiri dari bangkunya dengan mimik tak percaya.

Kemudian dengan langkah malu-malu, Alvin yang berkaca mata mirip Harry Potter ini maju menuju panggung sambil menyalami enam dewan juri. Tak henti mengumbar senyum, anak muda yang memiliki passion di dunia diet ini masih tampak tak percaya bisa lolos ke babak final pitching deck di Jakarta pada Oktober mendatang.

DietBuddy adalah aplikasi ketiga atau terakhir, setelah Diffago dan FishGo yang lolos ke Jakarta, hasil kompetisi early stage startup di Denpasar. Ketiganya mengalahkan 17 startup di pitching deck, ajang pencarian startup tahap awal terbaik di Indonesia ini. 

"Senang sekali bisa menjadi finalis dan lolos ke Jakarta karena DietBuddy belum memiliki aplikasi dan para pesaingnya juga ketat," ujar Alvin yang sebelum presentasi menghadiahi dewan juri sebuah buku bertajuk ‘#BukanBukuDiet’.

 

A post shared by Alvin Hartanto (@alvinhartantoo) on

Padahal idenya ikut The NextDev 2018 Talent Scouting Denpasar awalnya hanya iseng belaka. Semua bermula dari keinginan memiliki aplikasi baru setelah aplikasi lawasnya bernama Newlife Diet mengalami crash akibat salah urus. Meski baru sebatas konsep atau ide, rencana aplikasi diet, calorie tracker, dan konsultasi kesehatan ini mampu menarik perhatian dewan juri.

Tak heran, usai acara Alvin mengejar beberapa juri untuk berdiskusi soal langkah berikutnya yang mesti diambil oleh DietBuddy. Yoris Sebastian (Founder OMG Consulting) dan Alamanda Shantika (Founder Binar Academy) menjadi incarannya. Dia pun mencurahkan segala kebingungan kepada kedua dewan juri tersebut. Pertimbangannya sederhana, dia ingin segera merealisasikan aplikasi DietBuddy sebelum ke Jakarta, di tengah problem timnya belum memiliki orang dengan latar teknologi seperti programmer. Seperti janjinya saat presentasi, Alvin ingin belajar dan riset lebih banyak lagi supaya bisa segera merealisasikan aplikasinya, DietBuddy.

"DietBuddy dimulai dari nol tanpa bantuan teknis programmer. Untuk membuat aplikasi ini sempurna, saya perlu mentor, dukungan teknis, dan modal, maka itu ikut The NextDev Denpasar," ujarnya masih dengan senyum lebarnya.

 

A post shared by The NextDev (@thenextdev) on

Kondisi serupa juga dialami oleh startup tahap awal, Nyanggar.id yang menjadi peserta The NextDev 2018 Talent Scouting Semarang pada Mei lalu. Di ajang pencarian talenta digital terbaik di Semarang itu,  ada 20 startup tahap awal yang tampil di babak pitch deck.

Startup ini menawarkan konsep aplikasi market place bagi seniman tari tradisi di Semarang yang dikembangkan oleh Moh. Minhajul Mubarok, mahasiswa semester IV jurusan Ilmu Komputer Universitas Negeri Semarang. Minhajul secara blak-blakan mengungkapkan startup-nya belum jadi dan masih berupa konsep.

"Nyanggar.id belum ada produknya karena masih disiapkan. Domain-nya saja belum diurus karena keterbatasan biaya yang saya kerjakan sambil kuliah," ungkap Moh. Minhajul jujur kepada dewan juri. Namun, nasib Nyanggar tidak sebaik DietBuddy karena dewan juri tidak meloloskannya sebagai finalis.

Platform Early Stage Startup Terbesar di Indonesia

Minim modal dan pengetahuan memang mendorong startup tahap awal, seperti DietBuddy dan Nyanggar untuk mengikuti Telkomsel The NextDev 2018 ini. Pilihan tersebut tak keliru, sebagai platform early stage startup di Indonesia, The NextDev 2018 memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada startup tahap awal di negeri ini. Tak peduli bila startup tersebut baru sebatas konsep, ide, atau gagasan.

 

A post shared by The NextDev (@thenextdev) on

Ya, The NextDev adalah satu-satunya platform bagi early stage startup yang paling tepat di tanah air. Pasalnya, para pemenang akan mendapat pelatihan dan mentoring sistematis dari  Telkomsel, operator terbesar di Indonesia dengan pelanggan lebih 190 juta. Tujuannya, agar startup tahap awal ini bisa melahirkan aplikasi, masuk ke pasar, dan berdampak sosial hingga melakukan monetisasi.

Tak percaya, tengok saja The NextDev Talent Scouting 2018 yang sudah berjalan di tiga kota dari rencana tujuh kota. Platform buat early stage startup ini menjadi harapan banyak startup tahap awal untuk bisa masuk ke pasar. Hingga kota ketiga di Denpasar, akhir Juni lalu lebih dari 150 startup tahap mula mendaftar. Sementara tahun lalu, platform startup tahap awal utama ini menarik minat   1.700 startup, sejak digagas pada 2015.

Denny Abidin, General Manager External Corporate Communications Telkomsel menjelaskan alasan pihaknya membuat platform bagi early stage startup lewat The NextDev 2018. Salah satunya merupakan bentuk tanggung jawab Telkomsel sebagai operator pelat merah sekaligus terbesar di Indonesia.

"Kami fokus ke early stage startup karena Telkomsel punya program bikin keren Indonesia. Lewat platform startup tahap awal ini, kami  membangun talenta-talenta terbaik di ranah digital. Sebab kami yakin dengan membangun orang/people, akan lahir aplikasi-aplikasi yang bisa bikin keren Indonesia di masa mendatang," ungkap Danny yang biasa disapa Abe ini optimistis.

 

A post shared by The NextDev (@thenextdev) on

Program membangun talenta digital terbaik itu dibuktikan Telkomsel secara tepat dan optimal. Bagi startup tahap awal yang menjadi pemenang di The NextDev 2018 misalnya, sejumlah reward yang menjadi kebutuhan dasar early stage startup akan diberikan. Sebut saja mentoring, seed funding, marketing, akses kepada investor/venture capital, hingga publikasi media. Yang lebih menarik, mereka juga bakal bergabung dalam ekosistem startup Telkomsel yang dinamakan NextDev Alumni!

Ya, selain The NextDev Talent Scouting, pada tahun ini ada pula The NextDev Academy. Di sini, para finalis dikumpulkan dan digembleng lagi supaya bisa berkembang lebih baik. Misalnya, bagi yang belum punya aplikasi, bisa segera memiliki aplikasi. Sementara bagi yang sudah punya aplikasi, bisa lebih menarik lagi sehingga menciptakan traction, dan yang sudah masuk ke pasar bisa dimonetisasi.

Sederet nama keren pun menjadi trainers dan mentor mereka, seperti Dian O Wulandari (COO Instellar), Dayu Dara Permata (Senior Vice President Go-Jek), Andreas Surya (VP Portfolio dan Investment Kejora Ventures), dan sebagainya. Mereka memberikan materi lengkap dan penting bagi startup awal dari semua sisi. Misalnya, mindset, produk, kustomer, user interface (UI) dan user experience (UX), penjualan, pemasaran, hingga mencari investor.

 

A post shared by The NextDev (@thenextdev) on

Steve Saerang, Project Manager Telkomsel The NextDev 2018, menjelaskan The NextDev Academy 2018 digelar untuk membantu 20 finalis  The NextDev tahun lalu belajar lagi dari trainers terbaik. Apalagi banyak hal yang tidak mungkin mereka dapatkan secara internal. 

"Kami ingin mereka punya idealisme bikin Indonesia lebih baik lagi lewat aplikasi. Trainers disiapkan untuk menolong mereka untuk membuat startup kalian lebih baik lagi," pungkas Steve.

Aplikasi digital merupakan salah satu syarat pertumbuhan ekonomi digital di satu negara. Sebab aplikasi merupakan salah satu tools untuk upaya digitalisasi di berbagai sektor usaha. Apalagi berbagai riset global seperti Google Indonesia, memprediksi ekonomi digital Indonesia adalah tertinggi di Asia Tenggara pada 2025. Saat itu nilai ekonomi digital bakal mencapai US$ 81 miliar atau setara Rp 1.166 triliun.  Sedangkan lembaga McKinsey lebih berani lagi dengan prediksi nilai ekonomi digital Indoensia mencapai  US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2.160 triliun dan berkontribusi 10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) 2025!

Tantangan early stage startup

Alamanda Shantika, Founder Binar Academy berpendapat memang banyak inkubator bagi startup  di Indonesia, tapi tak banyak yang khusus menyasar early stage startup seperti The NextDev. Berdasarkan pengamatannya sebagai juri The NextDev empat tahun terakhir, banyak kemajuan dari peserta startup tahap awal ini, meski banyak pula startup mature yang ikutan sebagai peserta.

 

A post shared by The NextDev (@thenextdev) on

Namun, dia mencatat ada kelemahan yang menonjol bagi startup tahap awal peserta The NextDev, yakni engineering process. Maka dari itu, perlu ditingkatkan engineering process startup kita yang sangat tertinggal saat ini. Ambil contoh, startup seharusnya menyiapkan dua langkah ke depan dari sisi teknologi, misalnya dengan mengembangkan fitur kecerdasan buatan atau artificial intelligence di aplikasinya.

Meski ada hadiah seed money bagi pemenang The NextDev, ada satu nasehat menarik dari Yoris Sebastian kepada startup tahap awal yang memiliki keterbatasan modal. Saran dia, coba lakukan traction kecil dengan modal sendiri alias tanpa investor. Memiliki passion sebagai entrepreneur sejati, selayaknya Anda berjuang dan bergerak secara organik dengan kekuatan sendiri. Bagaimana Anda bisa menyakinkan investor, jika Anda sendiri tidak berani melakukan investasi terhadap aplikasi sendiri.

"Berteriak lah lewat karya (aplikasi) Anda. Kalau Anda sendiri bisa berhasil, investor pasti tertarik!" pungkas Yoris.

Inspirasi dari mentor seperti Yoris inilah yang sangat dibutuhkan startup tahap awal di Indonesia untuk bertumbuh dan berkembang. Bagai air, dia menghilangkan dahaga para pendiri startup tahap awal ini. Dan semua itu ditawarkan dan disediakan oleh Telkomsel The NextDev 2018 sebagai platform early stage startup utama di Indonesia!

Penulis: M. Syakur Usman

MORE UPDATES